KABARBANDUNG.COM – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dalam upaya membangun masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.
Disampaikan, Farida Dewi Maharani yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Ekosistem Media pada Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital pada acara Workshop Media “Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna”, di Kota Bandung, Rabu 22 April 2026.
Menurutnya, KDMP berkaitam erat dengan UMKM yang nantinya semua produknya bisa ditampung dan dipasarkan koperasi.
“Di era serba teknologi, proses KDMP pun terdigitalisasi, mulai dari proses awal hingga pemasaran yang menggunakan teknologi,” ujarnya.
Targetnya, kata dia, KDMP terjaga dan terakses oleh masyarakat secara luas.
Dikatakan, KOMDIGI mendorong koperasi digital sekaligus mempersiapkan infrastrukturnya agar nanti dimanfaatkan.
Alhamdulilllah, digitalisasi KDMP dominan ada di jabar, agar menfaat tak hanya di koperasinya saja, tapi ada peningkatan ekonomi dan sosial.
“Kami menyiapkan, perluasan jaringan akses juga penetrasi internet. Diharapkan masyarakat siap masuk dunia digital sehat serta bisa kondusif,” ucapnya.
Melalui Workshop, ia mengajak awak media agar bisa menjembatani program pemerintah dengan tulisan yang baik dan benar.
Karena, ucapnya, itu menjadi tanggungjawab media dan konten kreatif yang bergerak di industri telekomunikasi yang bertanggungjawab.
Diharapkan, menjadi forum silaturahmi serta berbagi pengetahuan, bagi semua.
Arnapi, Asisten Deputi Pengelolaan Data Kementerian Koperasi (Kemenkop) mengatakan,
Koperasi desa dan kelurahan sebagai isu publik, maka informasi yang ditampilkan jurnalistik itu terkadang tak berimbang juga tak sempurna, dan itu wajar.
“KOMDIGI, mencoba mengurai dan menyempurnakan semua produk jurnalistik,” kata dia.
Diakui, kata dia, masih belum semua paham digitalisasi, padahal pelaporan di daerah bisa langsung melalui sistem.
“Kita terus sosialisasikan, ada 83.634 KDMP yang berproses RAT, karena itu sebuah keharusan sebagai upaya transparansi publik,” ucapnya.
Jika berita soal KDMP berimbang, kata dia, maka ekosistem ekonomi di daerah akan berjalan baik, bahkan semua potensi desa terserap.
Lebih lanjut ia mengatakan, pemberitaan soal KDMP baru sebatas pembukaan saja dan belum ke narasi yang utuh, misal presiden resmikan KDMP.
“Kita mempunya harapan agar semua mendalami fungsi peran KDMP. Semua sedang berjalan, ada prosesnya mulai perlengkapan dan lahan hingga pengelolaan agar berjalan sendiri oleh pengerus,” ujar dia.
Semoga, ujar dia, target 2028 semua jalan dan bertahap bisa terealisasi.
Menurut dia kiprah media lokal menjadi kunci pengawasan sosial, karena yang paling melekat dan dekat dengan KDMP.
Keunggulan jurnalis lokal, ucap dia, masing masing desa mempunya cerita menarik dan unik.
Realitas di lapangan, soal pemberitaan KDMP semuanya mengupas sedang proses dan membutuhkan waktu.
“Mohon pemberitaan yang memberikan solusi terkait persoalan KDMP, melalui ahli dan yang paham,” katanya.
Disampaikan, pemberdayaan ekonomi lokal, UMKM dan semua pengusaha lokal bisa masuk koperasi, agar ekosistem desa tersebut menjadi luar biasa.
Misal, kata dia, masyarakat membeli berbagai kebutuhan usahanya di koperasi tersebut.
Sementara, Supriadi selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi Pemda Provinsi Jabar mengatakan, membangun koperasi, tak bisa bergerak sendiri, tapi membutuhkan peran media.
Artinya, kata dia, koperasi tak akan maju dan berkembang tanpa dibantu media.
Koperasi di Jabar, catatan pada akhir Desember 2025, jumlahnya 38.060.
Menurut dia, ada koperasi, eksisting dan koperasi merah putih. Koperasi eksisting ada 33 .405 da lainnya koperasi di luar merah putih.
Dari data itu, jata dia, yang aktf hanya 16.000 koperasi eksisting dan sisanya tidak aktif.
“Dari semua Koperasi eksisting tersebut ada yang kewenangan pusat, provinsi dan kabupaten kota,” kata dia.
Dilihat usahanya, ada Koperasi Simpan Pinjam (KSP), koperasi konsumen/produsen jasa dan pemasaran.
“Selama ini, pemberitaan media isunya hanya sebatas KSP saja, padahal masih banyak jenis usaha lainnya dalam koperasi itu,” tuturnya.
Dari masalah itu, menimbulkan stigma tak baik terhadap kopersi. Maka, pihaknya membutuhkan bantuan media dalam membranding koperasi.
“Koperasi di jabar banyak, bukan hanya simpan pinjam saja dan asetnya pun mencapai miliaran rupiah,” pungkasnya. ***
