KABARBANDUNG.COM — Di balik mulusnya aspal yang membentang dari utara hingga selatan Jawa Barat, terdapat narasi besar tentang kolektivitas yang sering kali terlupakan dalam lembaran kuitansi.
Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jawa Barat menegaskan kembali bahwa setiap denyut mobilitas warga di “Bumi Siliwangi” sejatinya digerakkan oleh satu pilar utama: kepatuhan pajak masyarakat.
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) kini tak lagi dipandang sebagai sekadar gugur kewajiban administratif di loket-loket Samsat. Lebih jauh, ia adalah manifestasi modern dari filosofi gotong royong.
Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, PKB merupakan investasi langsung yang buahnya dinikmati setiap hari oleh jutaan warga dalam bentuk pemangkasan jarak dan waktu tempuh antarwilayah.
“Setiap rupiah yang dibayarkan oleh masyarakat adalah investasi langsung bagi kelancaran jalan demi mobilitas yang lebih baik,” tulis pesan edukatif Bapenda Jabar yang dirilis hari ini. Pernyataan ini menegaskan bahwa ada korelasi linier antara disiplin pajak dengan peningkatan produktivitas daerah.
Bagi Jawa Barat, jalan raya adalah urat nadi ekonomi. Ketika seorang pemilik kendaraan menunaikan kewajibannya tepat waktu, ia sejatinya sedang menyumbangkan “nutrisi” bagi nadi tersebut agar tetap mengalirkan kesejahteraan.
Oleh karena itu, predikat ‘Pahlawan Pembangunan’ kini disematkan kepada mereka yang berdiri tegak dalam barisan ketaatan pajak.
Ketaatan ini bukan hanya soal legalitas kendaraan di mata hukum, melainkan soal menjaga momentum pembangunan agar tidak terhenti. Di tengah ambisi mewujudkan “Jabar Juara”, pajak menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi hari ini dengan kenyataan masa depan generasi mendatang.
Saksikanlah bagaimana kontribusi Anda bertransformasi menjadi infrastruktur yang kokoh. Mari melangkah bersama, karena Jawa Barat hanya akan tetap juara selama warganya tetap taat. (GUH)***
