Sepasang Bayangan di Balik Kaca, Hanya Buah Pikiran “Sawang Sinawang”

News Nusantara Terkini

Oleh: Siti Amilah (Miel)

Di sudut warung kopi bambu yang mulai ditinggalkan pengunjungnya, kabut tipis merayap turun dari lereng bukit. Hawa dingin perlahan menerobos celah anyaman dinding, menembus pakaian tebal Tirto dan menusuk hingga ke sumsum tulang. Tirto duduk menyendiri.

Jemarinya yang kasar dan dipenuhi bekas luka kerja keras meremas cangkir seng bertuliskan bunga-bunga pudar. Kehangatan kopi hitam di dalamnya mulai menguap, sejalur dengan napas beruap yang keluar dari mulutnya.

Pandangannya tertancap samar pada jalan raya yang basah oleh sisa gerimis.

Ckiit…..

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di depan deretan toko di seberang jalan. Kilau catnya memantulkan lampu-lampu jalanan yang baru menyala, memotong keheningan desa. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berjas rapi melangkah keluar.

Langkah kakinya mantap, dilindungi sepatu kulit mengilat yang tak tersentuh becek. Pria itu tampak seperti sosok yang dipahat langsung dari definisi keberhasilan: wajah bersih tercukur rapi, tatanan rambut tanpa cela, dan aura kemewahan yang memancar tanpa perlu bersuara.

Tirto menghela napas panjang. Beban di bahunya mendadak terasa berganda. Dahi berkerut dan jemarinya yang legam saksi bisu perjuangan bertahun-tahun membanting tulang demi sesuap nasi keluarga kecilnya serasa tak ada harganya.

Di dalam benaknya, sebuah bisikan cemburu yang dingin mulai menggerogoti.

Mengapa jalan orang lain begitu licin dan lapang, sementara jalanku penuh kerikil tajam dan keputusasaan? Apa kurangnya doaku?

Ia tidak tahu, bahwa di balik kaca mobil yang gelap, tebal, dan kedap suara itu, Raden sang pria berjas justru sedang menghentikan napasnya.

Bukan kemewahan atau urusan bisnis yang menyita perhatian Raden saat itu. Matanya tertambat lurus pada meja kayu lapuk di sudut warung kopi.

Ia memperhatikan seorang wanita bersahaja yang baru saja keluar dari dapur warung, membawa nampan berisi teh hangat, lalu duduk mendekat di samping Tirto.

Raden mengamati bagaimana Tirto tersenyum tipis sebuah senyum lelah namun sarat kerelaan saat mengusap jemari istrinya. Ada gelak tawa kecil yang meletup di meja sederhana itu. Kehangatan yang polos, tulus, dan jujur.

Dada Raden terasa sesak. Keheningan di dalam mobil mewahnya yang terpasang pendingin udara mendadak terasa mematikan.

Sudah berapa tahun ia tidak merasakan tawa tanpa beban seperti itu? Rumah megahnya yang bak istana hanyalah kotak beton dingin tanpa kedamaian, dipenuhi tuntutan, kecurigaan, dan kesepian yang menganga.

Di dalam kepalanya yang riuh oleh tekanan hidup, Raden berbisik penuh kerinduan yang menyayat: Andai aku bisa menukar seluruh rekening bank dan harta kekayaanku malam ini, hanya demi merasakan satu jam kedamaian dan ketulusan sederhana seperti itu…

Dua jiwa berada di tempat yang sama, menghirup udara malam yang sama, namun terisolasi total oleh dinding tak kasat mata bernama persepsi.

Malam kian melarut. Di balik pendar lampu remang warung, seorang penulis yang sengaja mengamati interaksi bisu tersebut membuka lembaran catatannya.

Jemarinya menari di atas kertas, merangkum sunyinya takdir kedua manusia itu dalam sebuah refleksi bertajuk “Hanya Buah Pikiran, ‘Sawang Sinawang'”:

“Jangan kau kira ada kehidupan yang benar-benar sempurna, hingga membuatmu buta dan iri pada hidup sesama.

Hidup itu adil. Begitu Tuhan menciptakannya, selalu ada ruang kosong dan sunyi pada setiap dada manusia. Tuhan tidak pernah memberi kesempurnaan mutlak pada siapa pun.

Maka, saat hatimu sakit dan terusik oleh kilau milik orang lain, ingatlah: bisa jadi ia sedang memandangi apa yang kau punya dengan rasa iba pada dirinya sendiri sesuatu yang sangat ia dambakan, namun tak pernah ada padanya. Tidak ada seorang pun yang memiliki segalanya.

Tuhan menahan kesempurnaan itu, justru untuk menunjukkan bahwa hanya Dia yang Maha Sempurna. Kita di dunia ini hanyalah desiran pasir yang diterpa angin. Sebab hidup kita hanyalah Sawang Sinawang saling memandang, saling menyangka.”

Angin malam kembali berembus kencang, menyapu daun-daun kering di jalanan yang makin lengang.

Derum mesin mobil Raden perlahan menjauh, menyisakan pendar lampu belakang berwarna merah yang memudar di kegelapan. Di meja warung, Tirto menghabiskan sisa kopinya dan beranjak pulang menggandeng erat tangan istrinya.

Di bawah langit malam yang sama, keduanya kembali meneruskan perjalanan hidup masing-masing.

Tak ada yang benar-benar memiliki segalanya, dan tak ada pula yang benar-benar tak punya apa-apa.

Sebab pada akhirnya, manusia di bumi tak pernah lebih dari desiran pasir: saling memandang dari kejauhan, saling mengagumi bayangan semu, tanpa pernah tahu kepedihan nyata yang tersembunyi di balik tatapan itu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *